Malang Trip: Pengalaman Naik Kereta Eksekutif Gajayana


Tahun 2002 saya pernah mengalami nasib yang sangat apes sewaktu naik kereta Argo Lawu dari Solo ke Jakarta, kereta saya waktu itu kena imbas dari kecelakaan kereta di Cirebon saat itu, 22 jam berhenti di tengah jalan entah dimana, ngga ada air, gelap (karena berhentinya sempat malam) dan kelaparan (karena kereta makan sudah kehabisan makanan). Jadilah sejak saat itu saya berjanji untuk tidak akan lagi naik kereta di Indonesia.

Tepat sepuluh tahun kemudian, di tahun 2012 kemarin akhirnya janji tersebut 'terpaksa' saya telan, karena akhirnya saya nyusul suami ke Jogja pun naik kereta Argo Lawu. Itu gara-gara ngga mungkin dapat tiket pesawat lagi, secara perginya dadakan. Alhamdulillah sampai selamat tiada halangan.

Sebenarnya saya suka banget naik kereta, sewaktu di Eropa dan Inggris, kemana-mana pindah kota dan negara pasti naik kereta, beli Eurail Pass supaya lebih efisien, kereta di Eropa sih udah canggih-canggih, serba cepat deh pokoknya nyaman. Di Thailand juga saya sempat naik kereta dari Sukathani ke Bangkok, sekitar 8 jam itu padahal keretanya jauh lebih busuk dari kereta ekonomi kita, yah, secara babi aja naik kereta itu deh.

Jadilah diawal tahun 2013 ini, saya kembali 'menantang' diri saya untuk naik kereta eksekutif lagi di negara ini, dengan pulang liburan di Malang ke Jakarta lagi naik kereta eksekutif Gajayana. Kalau dibilang murah, ya ngga juga, sekali jalan itu per orangnya Rp 495.000,- kalau bukan high season mungkin lebih murah sekitar Rp 400.000,-. Tiket pesawat Malang-Jakarta sih udah mahal banget untuk tanggal kepulangan kita, jadilah kita coba aja deh 15 jam perjalanan dengan Gajayana ini.

Tiket saya beli secara online di situs Kereta Api sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan, untuk penjualan online biasanya tiket dijual dari H-90 hingga sehabisnya jatah kursi. Saya membayar dengan kartu kredit., lalu sama seperti beli tiket pesawat, saya pun dikirimkan email berupa bukti pembayaran sekaligus kode booking (bedanya dengan pesawat, ini bukan tiket lho, inget!).
Jadi saya bisa menukarkan bukti pembayaran/kode booking tersebut ke stasiun paling lambat 1 jam sebelum keberangkatan.

Di hari H perjalanan kita pulang, kami pun menyempatkan diri untuk mampir ke stasiun Malang Baru untuk menukarkan Kode Booking dengan tiket aslinya, sekitar 4 jam sebelum waktu keberangkatan kita. Prosesnya lancar, hanya tinggal menunjukkan print out kode booking tersebut ke bagian Pelayanan Pembelian di stasiun. Lalu mereka akan mencetak tiket asli kita. Hanya butuh waktu 15 menit karena masih pagi jadi belum ada antrian.


Kereta kami berangkat pukul 13.45 tapi hingga jam segitu belum ada panggilan boarding, ternyata keretanya telat, baru jam 14.00 langsir di jalur 1.
aekitar 15 menit menunggu panggilan boarding di ruang tunggu yang ber-AC tapi tidak terlalu bersih, akhirnya kami pun sudah boleh naik kereta/gerbong kami. Ada beberapa sukarelawan dari klub pecinta kereta api yang membantu proses boarding, boleh juga ide kolaborasinya.
Tempat duduk kami berada di Gerbong 7, yang merupakan gerbong tambahan. Biasanya kalau bukan gerbong tambahan ada fasilitas wi-fi gratis, ini informasi dari teman yang sudah pernah menikmatinya.

Kereta eksekutif Gajayana.
Gerbong eksekutif Gajayana menurut saya lebih nyaman daripada Argo Lawu, pintu masuknya otomatis juga, dengan kabin bagasi di atas kepala semodel dengan pesawat, ada tutup kompartemennya. Tempat duduk sih mirip ya, dapat bantal kecil dan selimut juga. Tapi selimutnya ngga sewangi Argo Lawu. D


Dari tempat duduk kita lumayan dekat dengan LCD TV, lumayan nonton dikit, walaupun akhirnya saya banyakan tidur atau main ipad. Ada tempat colokan listrik untuk nge-charge ponsel atau laptop, sayangnya ngga ada tempat gantungan tas tangan. AC di gerbong kami untungnya tidak terlalu dingin, jadi bisa tidurdengan nyaman, inget waktu perjalanan ke Jogja dengan Argo Lawu siluman freezer, aduh untung banget deh ini ngga sedingin saat itu. Padahal di luar sempat hujan beberapa tempat.



Saya pesan makan nasi rawon, ibu saya pesan bakwan kuah. Rasanya lumayan, porsi sedikit jadi kalau dibandingkan harganya sih kemahalan, hahahaha rakus. Selama perjalanan, puas deh tidur, apalagi udah minum antimo, hehehehe.

Total perjalanan kami jadinya sekitar 16 jam, ngaret sejam dari seharusnya tiba di Gambir 04.50 jadi pukul 05.30. Yah not so bad lah untuk pengalaman baru.



15 komentar:

  1. Seumur-umur saya belum pernah naek kereta eksekutif. Saat ini lebih pilih kereta ekonimi penuh mahasiswa waktu musim liburan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ..itu kan pilihan, jaman masih sekolah sih saya udah kenyang jakarta-Bandung pp dgn kereta ekonomi Parahyangan. Setelah punya duit sendiri ya rewarding myself dikit dong :)

      Hapus
  2. salam kenal, seru ceritanya, pilihan terahir deh klo gak ada pesawat/ bis hehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, tengkyu yah udah mampir disini.
      Iya gw juga kalau kereta di indonesia sih udah pasti bukan pilihan utama gw, apalagi bis, hadeh..males, mending nyewa mobil sekalian rame2 lebih gampang ngaturnya

      Hapus
  3. Saya terakhir kali naik kereta ke Suarabaya sudah lama sekali.
    Kalau dilihat dari foto dan cerita anda sepertinya harus dicoba lagi.

    www.multibrandx.net

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kereta eksekutif skrg sudah lebih bagus dan bersih kok, porter dan pedagang sudah tidak boleh masuk lagi.

      Hapus
  4. saya doyan banget naik kereta, udah pernah nyoba ekonomi, bisnis seperti malabar, cuma belom pernah nyoba eksekutif seperti gajayana saja :D

    BalasHapus
  5. Haloo lucu ceritanya hehe jadi kamu itu di gerbong tambahan? Kalo boleh tau gerbong tambahan itu dari gerbong brp sampe brp ya? Trus untuk konsumsi itu kita bayar lagi di kereta atau udah include pembelian tiket?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kurang tahu ya kalo gerbong tambahan itu berapa ke berapanya tapi kalau beli tiket online biasanya ada keterangannya : tambahan, gitu.
      Untuk makan dan minum ya beli lagi terpisah.

      Hapus
  6. Gerbong tambahan itu dari gerbong brp sampe berapa ya? Trus untuk konsumsi itu udah include atau kita pesan & bayar lg di dalam kereta?

    BalasHapus
  7. Saya selalu senang membaca cerita perjalanan dari dan ke Malang. Kota yang sejuk. Perjalanan dengan pesawat tidak berasa, dengan kereta lebih berwarna dalam perjalanan.

    Thx for sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe kalo kita sih sbnrnya lebih suka naik pesawat.
      capek di kereta duduknya kelamaan

      Hapus
  8. nice trip hehhe

    (ilmanmuttaqin.student.ipb.ac.id)

    BalasHapus
  9. Pribadi saya, lebih baik, sih, saya naik kendaraan yang menurut orang lain terburuk. Saya emang kata orang aneh. Lebih suka naik yang rata2 orang tidak suka. Seperti saya lebih suka naik ekonomi jaman dulu yang masih sesak. Kalau sekarang udah tertib dan ber-AC. Mari kita tinjau sedikit tentang beberapa alasan saya menggunakan KA:
    1. Bila dilihat, KA adalah yang teraman, dan pesawat boleh dibilang paling rawan( teman saya yang airliner mengakuinya)
    2. Masalah ketepatan, di Indonesia, sekarang KA paling banter telat 20 menit. Biasanya kecepetan dari jadwal.
    3. Lebih santai.
    4. Pesawat yang elevasinya lumayan menyebabkan sakit telinga
    5. Bunyi mesin. Kereta walaupun punya Lokomotif dan gerbong P/Pembangkit, tetap tidak sebesar daya ledak mesin pesawat untuk F angkatnya.
    Untuk keunggulan pesawat bagi saya 1. Yaitu lebih cepat saja

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Gadgets By Spice Up Your Blog