badge

Trip dan Tips ke Kawah Ijen

Kami di Kawah Ijen
Kami tiba di kawasan Kawah Ijen sekitar pukul 7.00 udara masih segar dan tidak terlalu dingin, setelah melalui perjalanan darat selama 8 jam dari Surabaya menggunakan Pregio sewaan bersama rombongan Keliling Nusantara. Setibanya di pos akhir Paltuding, tanpa sempat sarapan ataupun mencuci muka dan sebagainya, kami langsung bergegas menyiapkan bawaan karena masih harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer melalui jalan setapak mendaki yang berpasir. Musim kemarau membuat udara lebih dingin dan kering sehingga debu pasir dengan mudahnya beterbangan.
Ngaso setiap 15 menit.



Normalnya diperlukan waktu berjalan selama dua jam untuk mencapai puncak dan kawah Gunung Ijen tersebut, namun khusus kami berdua, terutama karena saya si perempuan jompo ini rasanya sekitar 3 jam lebih baru kami berdua tiba dipuncak, sangat ketinggalan dengan rombongan, plus ditambah waktu makan Popmie di posko/warung sekitar KM 2. Dari situ masih sekitar 1 km lagi perjalanan menanjak yang cukup curam dan melelahkan.
Penambang belerang
Akhirnya nyampe juga di...warung Popmie!
Di Posko inilah para penambang belerang menimbang hasil bawaannya, beberapa hasil belerang dijadikan suvenir dengan berbagai macam bentuk pahatan yang lucu-lucu. Lumayan murah harganya sekitar Rp 5000,- hingga Rp 20,000,-. 

Sambil menikmati Popmie terenak di dunia (karena udah kelaperan berat sehabis jalan nanjak 3 jam!), kami sempat berbincang-bincang dengan pak Budi salah seorang penambang yang sudah menekuni profesi ini sejak dari remaja. Wisata Ijen ini kini telah menjadi salah satu rute olah raga maraton dan triatlon internasional juga lho dari cerita pak Budi ini. 

Selama perjalanan menanjak ke puncak kawah, kami juga berpapasan dengan penambang belerang yang mengangkut hasil tambang belerang di pundaknya sampai seberat 70 kg, para penambang tersebut menyatakan rata-rata seorang penambang akan bolak balik membawa beban 70an kg itu sebanyak 2-3x. Wow!
Menimbang Belerang
Bersama pak Budi
Berusaha mengangkat 76kg belerang

Suvenir belerang
Tadinya saya pikir trekking naik ke kawah Ijen ini akan serupa mudahnya seperti jika kita mengunjungi Kawah Putih Patuha ataupun Tangkuban Perahu, ternyata salah besar sodara-sodara!, hahahaha. Udah mau semaput deh, mata gelap berkunang-kunang, untung bawa sekantung Oreo untuk menambah asupan gula dan 2 botol air minum sepanjang trekking, sayangnya ngga bawa Pocari Sweat yang biasanya membantu banget mengurangi kelelahan. 

Jadi ya, kalau biasanya ngga pernah olah raga, gak pernah naik gunung dan hobinya ke mall (persis kayak saya deh), siap-siap tenaga aja deh untuk trekking disini.





Namun memang sesampainya di puncak, bahkan beberapa ratus meter sebelum puncak, kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya (mirip dengan pemandangan pinggir jalan dekat gunung-gunung di New Zealand yang sudah pernah kami kunjungi). Apalagi begitu mencapai puncak kawah Ijen tersebut, semua rasa lelah langsung terbayarkan (gak bakalan hilang sih namanya capek itu sampe bener-bener ketemu tukang pijet), paduan keindahan kawah hijau toska berpadu dengan langit cerah kebiruan, asap putih dari semburan belerang dan semburat kuning batuan belerang sekeliling danau kawah serta hutan hijau yang mengelilinginya.



Rombongan kami cukup telat tiba di puncak kawah sebenarnya dibandingkan pengunjung lain yang biasa mengejar matahari terbit di puncak kawah, tapi saya pribadi lebih suka untuk tidak terlalu pagi, kebayang dinginnya dan pasti tambah ngos-ngosan menanjaknya. Namun lebih siang dari jam 9.00 untuk memulai pendakian sih sebaiknya jangan ya, karena pasti matahari sudah sangat terik, asap belerang sudah naik dan berbau keras.

Kami juga beberapa kali berpapasan dengan pengunjung/wisatawan asing, bahkan beberapa diantaranya sudah berumur dan ada juga yang masih anak-anak, aduh malu banget dehhh ngeliat mereka kayaknya ngga secapek saya menanjak disana.

Untuk biaya masuk ke area wisata yang dikelola oleh Departemen Kehutanan ini sebenarnya cukup murah. Tiket masuknya dikenakan Rp 2.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 15.000 bagi wisatawan asing.

TIPS
Berdasarkan pengalaman kemarin, berikut kami bagikan sejumlah tips untuk Anda merencanakan kunjungan ke Kawah Ijen ini :
1. Transportasi
Sejujurnya karena kami ikut trip terorganisir jadi kami kurang paham jika harus menggunakan kendaraan umum, sebaiknya sih cari transportasi bis yang menuju Bondowoso, dari kota ini saya lohat banyak agen wisata lokal yang menawarkan penyewaan/trip lokal ke Kawah Ijen.


2. Penginapan

Sekitar area luar dari pos resmi kawah Ijen ada beberapa penginapan losmen dan di pos akhir Paltuding juga ada penginapan yang dikelola Departemen Kehutanan dengan tarif Rp 100.000 per malam.

3. Barang bawaan, jangan lupa membawa ;
- jaket tebal/ baju hangat berlapis
- topi/kupluk, sebaiknya menutupi telinga.
- syal leher selain untuk menutupi leher bisa juga sebagai masker untuk menutupi hidung dari bau menyengat belerang.
- sepatu/ sandal gunung
- cemilan manis penambah tenaga
- air minum (sebaiknya bawa yang bisa menggantikan ion tubuh).
- Senter jika berangkat trekking saat subuh untuk melihat matahari terbit.
- Kamera (dengan isi memory SDcard dan baterai kamera yang cukup)

4. Pilih waktu terbaik
Seperti halnya waktu terbaik untuk mendaki gunung, sebaiknya hindari musim hujan, larena selain licin juga sulit untuk mendapatkan pemandangan menakjubkan di puncak kawah, waktu terbaik adalah musim kemarau sekitar pukul 05.00-07.00 dimana cuaca belum terlalu terik, udara masih segar dan uap belerang belum terlalu bau.

5. Sarapan yang cukup terlebih dahulu, jangan terlalu banyak karena tidak ada toilet untuk buang air besar sepanjang jalur trekking.

6. Buang air kecil dan besar terlebih dahulu.
Siap-siap menahan hasrat buang air kecil bagi para wanita karena sepanjang jalur trekking dari Paltuding hingga puncak kawah tidak ada toilet, seharusnya di Paltuding ada, tapi tidak ada air dan sangat tidak terawat. Saya akhirnya harus buang air kecil 2x dibalik semak-semak!

7. Perhatikan beban bawaan.
Kecuali Anda fotografer yang memang biasa harus membawa perlengkapan memotret yang berat, sebaiknya tidak perlu membawa tas terlalu berat, bawa backpack kecil aja supaya beban bawaan berimbang di kedua bahu.

8. Tongkat trekking jika membutuhkan. Sebaiknya membawa tongkat kayu untuk menopang berat tubuh, bisa ditanyakan di kantor pengelola jika membutuhkan.

Selamat menikmat Kawah Ijen !

Foto-foto lainnya bisa juga dilihat di FB saya (jika kita sudah berteman di FB tentunya) : Ijen Crater album



14 comments:

  1. Siiip. Keren... Trimakasih untuk tulisannya mb !!

    ReplyDelete
  2. pakai trip organizer apa bu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku peginya sama trip orgz di Surabaya..namanya aju lupa deh..maaf ya

      Delete
  3. Kalo bawa anak kecil...bs ga ya?? Ktnya ada porter u gendong ank2 ato barang bawaan kita..bener ga ?? Txu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf waktu kita kesana ga liat ada porter..yg byk tkg angkat batu aja. Klo anak2, tgantung usianya dan sbrp sering itu abak ikutan trekkung..klo sdh agak besar sekitar 6 thn keatas tdk papa tapi klo dbawah itu mungkin klo saya sih ga tega

      Delete
  4. Kalo bawa anak kecil...bs ga ya?? Ktnya ada porter u gendong ank2 ato barang bawaan kita..bener ga ?? Txu

    ReplyDelete
  5. Bisa aja mbak, ada porter kok. Kalau ga salah kemaren terakhir 800rb untuk orang, dibawa 4 orang pake tandu mirip panglima jendral sudirman. Itu udah naik dan turun dari pos 1 pal tuding, kalau naik apa turun aja 400rb. Cuma untuk anak2 dipersiapkan baju hangatnya ya, semoga membantu...

    ReplyDelete
  6. kalo siang kira" suhunya berapa derajat om..??

    ReplyDelete

Boleh kok komen apa aja, nanya apa aja, curcol jg boleh. Minta di blogwalk jg boleh. Yang ga boleh itu pasang link ke website jualan ya. Tolong punya etika, jangan numpang iklan gratisan.

Spam komen link jualan = Delete.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Booking.com
Gadgets By Spice Up Your Blog