Senin, 09 Januari 2012

NZ Trip : Menikmati Makan Malam Hangi di Mitai Maori Village

Hari kedua di Rotorua masih juga hujan, ternyata memang sudah seminggu hujan turun tiada henti di kota ini, demikian dijelaskan supir bus yang membawa kami ke Mitai Maori Village.

Apa sih  Mitai Maori Village  itu?.


Jadi salah satu wisata yang ditawarkan di NZ adalah wisata budaya mengunjungi "desa" suku Maori, suku asli NZ yang mendiami negara ini ("Aoetoroa"  adalah New Zealand dalam bahasa Maori) sebelum masa kolonial Inggris. Rotorua merupakan salah satu kota yang paling banyak didiami oleh para keturunan suku ini yang mana juga paling banyak menawarkan wisata budaya mengunjungi 'desa' mereka dan menikmati beberapa pertunjukan budaya seperti tarian, nyanyian, adat istiadat juga hidangan khas Maori (Full Hangi Meal)  berupa :  Ayam panggang, irisan daging domba panggang, Kentang panggang, Kumara (semacam ubi manis), labu atau wortel (tergantung ketersediaan), yang semuanya dipanggang dibawah tanah menggunakan batu-batu panas dari geothermal dan gunung berapi. Biaya yang dikeluarkan untuk menikmati semua ini adalah NZD 105 namun kami mendapatkan diskon 10% dari pemesanan di i-site Rotorua, lumayan lah. Tapi bener-bener ngga rugi karena makan malam kami disini adalah makan malam yang terenak selama trip kami ke New Zealand ini, hahahaa.


Kami dijemput di hotel kami di Astray Rotorua sekitar pukul 17:45 oleh shuttle bus Mitai Maori Village (yang super warna warni penuh grafis seperti di foto samping ini), lalu sempat berkeliling menjemput beberapa orang lagi di hostelnya masing-masing. Sore itu masih hujan rintik-rintik, awet dari kemarin nonstop mendungnya. Setibanya langsung disambut oleh 2 orang gadis Maori (yang serem banget tatonya dibawah dagu plus entah pakai contact lens atau ngga itu tapi kok matanya kayak vampir!) lalu mendaftar ulang dan kami pun mendapatkan tempat duduk di meja nomor 10 bersama beberapa orang yang ternyata juga 1 bus dengan kami.
Lalu acara dibuka oleh ...supir bus kami, si Uncle Ben !(btw ya kami perhatikan, selama di New Zealand itu sumber daya manusia benar-benar dimanfaatkan secara maksimal, supir bus itu bisa berdaya ganda sebagai tur guide juga, dan sekarang disini selain tur guide juga sebagai MC alias pembawa acara, keren, bener-bener efisiensi). Dia menjelaskan secara singkat acara yang akan kami lalui selama 3 jam kedepan. Lalu dia mengajak kami menyanyi salah satu lagu Maori, yang sudah pasti kacaw deh dinyanyikan kita.
Hangi cooking
Setelah itu dia mengajak kami untuk menyaksikan bagaimana makan malam Hangi kami dimasak. Jadi ya semua daging ayam, domba, kentang, kumara dan labu kuning dimasak di lubang bawah tanah (setelah dilapisi dengan almunium foil dan pemanggang kayu) yang dibawahnya adalah batu-batuan panas dari geotermal, lalu ditutup dibagian atasnya agar asapnya tidak kemana-mana dan bercitarasa smokey.  Proses memasaknya ini minimal 5 jam, untuk yang lebih tradisional malah bisa seharian. Ngiler banget deh ngeliat jejeran daging panggang ayam dan domba itu, pengen buru-buru dimakan ajah!.
Atas: Berfoto dengan  rumah kayu Maori
Bawah: Mata air- Fairy Spring
Tapi ternyata memang belum waktunya makan, jadilah kita digiring untuk melewati hutan kecil di dekat desa ini, dan dijelaskan mengenai rupa-rupa tumbuhan khas New Zealand yang digunakan oleh suku Maori, antara lain seperti Manuka, Kumara yang sudah terkenal, lalu kami melewati juga sebuah mata air (Fairy Springs) yang sangat bening kebiruan, cantik banget, saking terlihat segarnya sampe haus saya melihatnya!. Perjalanan melewati hutan dilanjutkan dan ternyata kami dibawa ke pinggir sungai kecil dan berhenti disitu untuk menyaksikan pertunjukan Waka (pertunjukan kano perang kuno suku Maori) di pinggir kali Wai-O-Whiro ini. Keren banget pertunjukannya sangat dinamis dan agak magis.
Yang lucu salah satu performernya kayaknya bukan orang Maori asli deh, abis bule banget gitu!.
Coba cari yang mana yang bule?
Setelah dari sini, kami lalu diajak menuju tempat pertunjukan semi indoor (kebetulan diluar hujan jadi lumayan kering deh disini) dimana mereka menyajikan tarian, nyanyian dan menjelaskan berbagai macam kebudayaan Maori, termasuk diantaranya adalah jenis tato yang digunakan di badan mereka. Cukup lama sih, ada kali 1 jam disini. Tapi seru banget liat mereka melakukan Haka (tarian terkenal khas suku Maori yang dilakukan bersama-sama dalam grup, bersifat sebagai tarian penyemangat sebelum ke medan perang, sekarang tarian Haka ini biasa dilakukan oleh tim olahraga dari New Zealand, umumnya untuk tim Rugby-cabang olah raga yang paling terkenal di New Zealand, sebelum bertanding melakukan Haka untuk penyemangat bersama)., wah luar biasa semangatnya.

Haka dan tarian Maori lainnya
Lalu sebagai puncak acara : Makan Malaaaam!!!. Bentuk makan malamnya adalah Buffet. Waduh, saking semangatnya, entah karena panik takut keabisan saya mengambil makanannya buanyaak banget (ala orang Indonesia banget deh kalo dapet makan gratis-padahal bayar). Abis gimana ngga panik bin ngeces, yang disajikan itu ya; ayam panggang, irisan daing domba panggang, kumara dan kentang, dibanjur sama kuah gravy dan saus mint (yang mana pada saat itu gw baru tau ini saus enak banget kalo dimakan sama daging domba!). Plus ada bread stuffing (ini juga gak ngerti apaan tapi enak banget), salad sayur (jagung, bunga kol dan taburan wijen, nasi, Ranchslaw dan Freshly Tossed Garden Salad) dengan taburan keju, pasta tuna, garlic bread dan yang luar biasa enaknya: scallop potato dibanjur kuah keju...sluuurppp, juaraaaa enaknya!. Lalu dessertnya itu ada salad buah, strawberry pavlova, chocolate Log dan Trifle with Cream. Gembul abisss...
Saya dan sepiring 'hasil jarahan' Hangi

Area makan
Area makannya sendiri berupa tenda besar dengan meja-meja panjang yang ada sekitar 15 meja, dan 1 mejanya ada sekitar 8 orang, lalu ada 2 meja buffet panjang ditengah-tengahnya.

Sekitar jam 21:30 lalu kami diajak keluar lagi menuju hutan kecil yang tadi, dibagikan senter kecil karena sudah gelap serta masih hujan, jadi sebagian yang tidak pakai jaket hujan, dipinjamkan jas/poncho hujan. Di salah satu kolam mata air itu kami melihat banyak sekali glow worm (bukan cacing sebenarnya adalah larva yang bersinar karena proses bioluminescence. Cantik sekali, sayangnya walaupun diperbolehkan memotret, kamera kita ngga ada yang secanggih itu untuk menangkap foto glow worm ini, semua hasilnya gelap aja gitu item.

Setelah selesai semua, kami langsung menuju bus shuttle yang sebelumnya menjemput kami (udah diingetin sama uncle Ben, kalau bus kita nomor 2) dan tiba di hotel kami sekitar pukul 22:00. Capek tapi puas banget, apalagi sama makanannya. Mungkin ini makanan termahal yang kita bayarkan selama di New Zealand ini tapi jelas yang paling enak!.

Selain Mitai Maori Village, ada juga beberapa pilihan tempat lain yang menyajikan hidangan, pertunjukan dan pengalaman yang serupa dan menjadi pertimbangan saya untuk memilih:

Te Puia dan Te Po experience: Selain juga memperkenalkan cara membuat pakaian dan memahat khas Maori juga ada Pohatu geyser yang terkenal di Te Puia. Te Po sendiri lebih berupa sajian tarian - nyanyian dan makan malam dengan hidangan khas Maori (Full Hangi Meal), dilakukan malam hari mulai pukul 18:00. Penjemputan ke hotel/ penginapan dapatdilakukan. Biaya untuk masuk Te Puia (Day time experience) adalah NZD 46 per orang, jika ingin termasuk menikmati sajian tarian dan budaya Maori untuk salah satu jam pertunjukan (10:15, 12:15 dan 15:15) dikenakan biaya total NZD 57,5.
Sementara untuk Te Po dining experience sekitar NZD 110 per orang sudah termasuk penjemputan, jika paket dengan Te Puia Daytime experience harganya jadi NZD 145. Diskon 10% diberikan oleh penginapan kami di Rotorua, namun untuk tiket Te Puia saya sudah beli online juga dan dapat diskon yang sama. Jadi kami hanya mengambil paket yang Daytime experience tanpa pertunjukan (yang harga tiketnya NZD 46)

Tamaki Maori Village : Tamaki Maori Village ini telah dianugrahi penghargaan sebagai salah satu atraksi pariwisata budaya terbaik di New Zealand dan merupakan pilihan utama saya sebelum datang ke NZ. Pengalaman yang ditawarkan serupa tapi tak sama dengan Mitai Maori Village. Namun keduanya adalah desa untuk kebudayaan jadi tidak ada yang benar-benar tinggal disana.
Biaya yang dicantumkan untuk ke TMV ini adalah NZD 105 sudah termasuk penjemputan juga.Akan tetapi yang menjadi pertimbangan kami adalah di Tamaki ini tidak ada kunjungan melihat glow worm dan juga pertunjukan tarian perang diatas kano.

Whakarewarewa : Serupa tapi tak sama dengan Te Puia, desa ini merupakan salah satu desa dengan sumber mata air geothermal, lengkap dengan  atraksi budaya (memperkenalkan budaya suku Maori; tarian, nyanyian, kebiasaan, macam-macam tato dan sebagainya) serta juga paket lengkap untuk makan siang (hanya ada pukul 12:00 - 14:00 dan harus booking terlebih dahulu) dengan hidangan khas Maori (Full Hangi Meal). Biaya untuk kesini, hanya di desanya saja tanpa makan siang hidangan Hangi; NZD 32, jika ingin menambah dengan menyaksikan pertunjukan budaya Maori dan hidangan khas Maori dikenakan lagi biaya NZD 61.Di Whakarewarewa ini adalah satu-satunya tempat dimana kita bisa menikmati hidangan Hangi ini di jam makan siang, sebab yang lainnya umumnya pertunjukan budaya dan makan malam Hangi. Berbeda dengan Tamaki dan Mitai, di Whakarewarewa ini benar-benar desa yang ditinggali dan tidak hanya untuk pertunjukan saja.

Matariki Hangi  sepertinya kurang lebih sama, disini ada pertunjukan tarian, nyanyian dan makan malam dengan hidangan hangi (berupa sup, ikan/daging panggang, sayuran, seafood, salad, dessert dan kopi/teh) namun tempatnya berada di Novotel Rotorua, jadi bukan desa seperti yang lainnya. Cocoknya sih buat mereka yang tidak punya banyak waktu untuk ikutan yang telah disebut diatas. Tapi ya kurang suasana otentiknya, nggak masuk hutan, bukan suasana luar ruang. Tapi ya enaknya kalau hujan ya gak basah. Disini agak cepat mulainya dari 18:30 dan selesai  pukul 21:00. Harga tiketnya sekitar NZD 55 pada saat saya tanya di i-site Rotorua. Silahkan dicek lagi kalau memang minat.

Selain di Rotorua, ada beberapa kota lainnya juga yang menyediakan Hangi meal dan pertunjukan budaya ataupun tarian Haka.
Kota lain yang memiliki pertunjukan khas suku Maori adalah :

Queenstown: Kiwi Haka Maori Experience bertempat di bangunan Skyline (gondola) Queenstown, merupakan pertunjukan tarian, nyanyian dan budaya Maori serta makan malam Hangi di dalam ruangan teater khusus. Harga tiket untuk pertunjukan disini pada saat kami mengunjungi Skyline adalah NZD 55. Namun tidak ada jasa penjemputan disini.


Waitangi : The Waitangi Treaty Grounds merupakan museum dan tempat peringatan perjanjian Waitangi (perjanjian antara kolonial Inggris dengan suku Maori), untuk tiket masuknya NZD 25 namun belum termasuk biaya pertunjukan dan makan malam khas Maori.


Cape Reinga : Sand Safari  menyajikan pertunjukan budaya Maori tanpa ada aktifitas makan malamnya.

Christchurch : Ko Tane Maori Experience ini bertempat di Willowbank Wildlife park yang berada agak keluar kota Christchurch, sajian yang ditawarkan kurang lebih sama, yaitu mengenai budaya, tarian, nyanyian, tato, Haka dan juga cara memasak Hangi. Untuk pemesanan tempat disini sangat dianjurkan karena mereka tidak buka setiap hari, Hanya di hari Senin, Kamis, Jumat dan Sabtu, mulai pukul 17:15, dan menyediakan penjemputan. Biaya untuk aktifitas disini adalah NZD 105 untuk acara selama 2,5 jam dan ada paket Combo dengan Tour melihat Kiwi (hewan, bukan buahnya) di Willowbank Wildlife sebesar NZD 135 dengan total waktu 3,5 jam.

Mungkin ada sih tempat lain yang menyediakan atraksi yang sama, tapi yang berhasil saya survey hanya tempat-tempat disebut diatas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

IBN