badge

Kesan Mendalam dari Perjalanan Derawan ...

...kali ini adalah Nyaris Mati !. Kenapa bisa begitu? hiyuuuk dibacah deh...


Hari terakhir kami di pulau Derawan ini tidaklah banyak yang diceritakan karena memang kami harus meninggalkan pulau ini untuk kembali ke Tarakan pukul 7 pagi untuk mengejar pesawat jam 10 pagi. Cukup mepet sih, tapi saya optimis karena memang sudah pernah mengalaminya dan berhasil kembali ke Tarakan lebih cepat daripada perjalanan datangnya. Yang akan saya ceritakan justru pengalaman yang seharusnya hanya 2-3 jam di kapal menuju Tarakan menjadi 10 jam.
Masih inget kan cerita saya sebelumnya disini dan yang ini , tentang betapa tololnya kapal si Hijau yang membawa rombongan kami di akhir pekan ini. Nah, posting kali ini adlaah episode penutupnya yang mencapai klimaks saat perjalanan pulang kami ke Tarakan.

Dimulai dari pada saat waktu sarapan, saya komplain berat ke Maliq bahwa betapa inkompetennya kapten kapal kami bersama kapalnya yang sama bobroknya, sering mati dan sulit di starter dan betapa menyebalkannya karena banyak waktu yang terbuang. Intinya I've made my points cleared lah...

Pukul 7 pagi lebih sedikit setelah sarapan tadi dan dadah-dadahan dengan Pupun dan Adi yang masih extend di Derawan 2 hari lagi, akhirnya rombongan saya bergegas untuk menuju jetty, masih dengan semangat "posisi menentukan prestasi" karena kami ingin menempati deretan tempat duduk di depan sehingga tidak terlalu mabuk laut. Hujan rintik sudah turun dan saya agak waswas dengan kemungkinan ombak besar akan memperlambat perjalanan kami kembali ke Tarakan.

Prosesi naik ke kapal kami pun agak sulit karena posisi jetty yang digunakan agak terendam air laut, akhirnya rombongan kami pun berhasil 'menguasai' tempat favorit. Kembali ke urusan mesin kapal hijau yang tolol ini,karena mesin  yang bermasalah sudah diganti dengan kapal rombongan yang satu lagi kemarin, maka perjalanan ini dimulai dengan cukup mulus. Maliq berada di kapal rombongan yang satu lagi.
Kami, sebelum semua bencana itu datang
Saya masih belum bisa meneruskan tidur di kapal, entah kenapa kok perasaan agak waswas selain karena hujan turun cukup deras sehingga membuat perjalanan ini tidak berlangsung cukup mulus. Sekitar kurang lebih 1 jam perjalanan, tiba-tiba kapal berhenti berdekatan dengan kapal yang satu lagi, dan ternyata Maliq pun pindah ke kapal kami (yang mana nantinya kami semua sangat berterima kasih sekali dan bersyukur pada Tuhan, kalau Maliq memutuskan untuk pindah kapal ini). Ternyata Maliq ingin membuktikan dan melihat sendiri betapa kurang komunikasi dan tidak kompetennya kapten kapal ini sesuai dengan komplain saya (baca: kami).

Kapal kembali memulai perjalanannya beriringan dengan kapal rombongan yang satu lagi di depan kami, yang entah kenapa tiba-tiba semakin menjauh dari kapal kami. Hujan masih turun dengan lebatnya. Tiba-tiba bencana itu terjadi, mesin kapal kami kembali mati!. Setelah sekitar 10 menit berusaha menghidupkan kembali mesin tersebut tanpa hasil akhirnya kami mendengar the ultimate reason ; Kapal tolol ini KEHABISAN BENSIN dan TIDAK PUNYA BENSIN CADANGAN !.

Bahkan Maliq dan kru kapal pun terlihat shock mendengar kalimat yang dikeluarkan si kapten kapal yang inkompeten dan menyebalkan ini. Ok, that's it! dia gak pantas menyandang titel "Kapten", saya akan sebut dia untuk seterusnya "Supir Kapal Tolol". Tiba-tiba saya melihat salah satu kru memberikan drum yang berisi bensin untuk diisikan ke mesin, tapi melihat betapa ringannya dia membawa drum tersebut saya ragu apakah cukup, ternyata benar, salah satu kru kapal mengatakan cadangan bensin yang ada hanya 5 liter. Apaa???. 5 Liter? emangnya ini motor bebek ??!!.

Saya mulai gelisah dan mulai memikirkan jalan keluar apa yang harus dilakukan untuk situasi ini. Belum habis kekesalan kami terhadap tragedi habis bensin ini, ternyata dengan bensin cadangan yang tidak seberapa ini pun muncul masalah berikutnya; kami ditinggal kapal rombongan satunya lagi...dan supir kapal tolol ini TIDAK BISA BACA GPS !!. Padahal ada lho GPS-nya di kapal ini, canggih punya pula!.
Tapi percumaaa...karena SUPIR KAPAL TOLOL INI GAK BISA BACA GPS!!!.
OK, I know this is sounds like a drama. 
Eric (kiri) mulai mempelajari GPS kapal
Tapi ini beneran terjadi pada kami, jadi saya benar-benar sudah kehilangan kesabaran, demikian juga dengan Eric yang berusaha membaca GPS dan menginformasikannya kepada supir kapal tolol ini yang dengan menyebalkannya keras kepala menolak informasi yang diberikan Eric! dan kamipun mulai memberikan instruksi-instruksi ke Maliq untuk berusaha menghubungi kapal satunya. Mulanya kami gunakan piranti radio pemancar kapal untuk menghubungi kapal di depan kami, percakapan berlangsung dengan sangat frustasi, karena mereka sibuk mengarahkan bagaimana kami bisa menemukan arah kembali, padahal masalahnya sudah bukan kami tersesat saja, tapi mesin kapal ini mati tanpa bensin. Percakapan tolol di radio ini benar-benar menguras emosi, karena sepertinya mereka mendengarkan semuanya kecuali bagian penting : Mesin kapal mati, tidak ada bensin. Radio pemancar pun akhirnya tidak berguna karena sudah melebihi jarak kemampuan komunikasinya sebab kapal yang satu lagi semakin menjauh dari kami.

Keadaan semakin mencekam, kami sudah terombang ambing sekitar 1 jam ditengah hujan cukup deras. Maliq terus berusaha menghubungi kapal di depan kami. Sementara supir kapal tolol tersebut tidak melakukan apa-apa. Dia bahkan tidak berkomunikasi sama sekali dengan kami. Benar-benar imbesil anti-sosial!. Seharusnya orang semacam dia tidak usah dipekerjakan dalam industri yang membutukan interaksi sosial seperti ini. Seharusnya dia bekerja sebagai buruh pabrik aja yang hanya diintruksikan untuk mengerjakan 1-2 hal yang tidak se-kompleks menahkodai sebuah kapal laut!. Emosi sudah di ubun-ubun.

Salah satu dari kami memiliki ponsel selain BlackBerry (yang mana tidak berguna jika digunakan untuk perjalanan ke daerah pelosok seperti ini), jadi bawalah ponsel lain jika melakukan perjalanan ke daerah pelosok dan gunakan Telkomsel (yang saya akui memang memiliki sinyal yang lebih menyeluruh se-nusantara dibanding operator lain. Akhirnya ponsel tersebutlah yang Maliq gunakan untuk menghubungi kapal satunya, meminta untuk kembali menjemput kami. Yang membuat semakin gemas adalah betapa sulitnya berkomunikasi lisan dengan orang tersebut, kami bolak balik mendengarkan Maliq mengulang-ulang instruksi yang sama ke anak buahnya di kapal depan (problem selanjutnya adalah tiket pesawat yang terancam hangus karena sudah tidak mungkin lagi kami mencapai Tarakan dalam waktu 1 jam lagi).

Akhirnya saya menginstruksikan Maliq untuk meng-smskan kordinat kapal kami ke nomor ponsel anak buahnya itu dan menyuruhnya untuk kembali menjemput kami setelah mereka tiba di Tarakan. Tidak satupun dari rombongan saya yang memiliki ponsel yang menerima sinyal yang cukup untuk melakukan komunikasi dengan dunia luar, membuat kami semakin frustasi. Sekali lagi, betapa keputus asaan membawa kita dekat dengan Allah, memang malu ya harus mengakui di saat genting, bahaya dan susah kita pasti ingat-Nya. Sementara betapa jarangnya kita ingat saat kita sedang bahagia.

Maliq terlihat berusaha menguasai keadaan, walaupun saya tahu dia sudah mulai bingung, apalagi kami kerap memberikan instruksi, saran atau ide apapun untuk dapat menyelamatkan keadaan. Saya mulai tidak tahan, selain frustasi, ternyata terombang ambing ditengah laut dalam keadaan hujan dan juga bau diesel mesin membuat kombinasi yang cukup untuk mengguncang ketahanan saya terhadap mabuk laut. Saat saya melongokkan badan untuk menghirup udara segar, tiba-tiba saya lihat titik dari jauh seperti sebuah kapal lain, yang ternyata memang benar!. Saya dan Lolo mulai berteriak-teriak minta tolong seperti orang kesurupan. Yang mengherankan adalah dari semua orang dalam rombongan ini, betapa terlihat plegmatisnya mereka, kontras sekali dengan kami berdua yang berusaha ekspresif dengan segala ide untuk menyelamatkan diri.

Kapal kuning tersebut mendekat, itu adalah salah satu kapal wisata juga dari Derawan yang hendak kembali menuju Tarakan. Namun betapa menyebalkannya, mereka menolak untuk menolong kami karena kapasitas sudah penuh!, ya ampun, bahkan untuk 1 orang pun? supaya dengan 1 orang tersebut kami bisa memiliki jalan keluar bagaimana agar kami terselamatkan. Yak, inilah bangsa Indonesia yang sedari kecil kami diajarkan adalah sebagai bangsa yang ramah tamah dan suka menolong, segini doang? tolong menolong my ASS!. (maaf atas kekasaran bahasa, tapi ini adalah ekspresi sudah betapa frustasinya saya saat itu).

Supir kapal tolol itu selama kejadian ini tidak melakukan apa-apa, malah mengambil nasi bungkusnya dan makan di atap kapal !. Sekitar 30 menit dari lewatnya kapal jahat itu (yes, drama), saya melihat ada 1 titik lagi mendekat dari arah depan kami, lalu kembali saya dan Lolo (kali ini beserta sejumlah rekan perjalanan kami lainnya di atap kapal) berteriak-teriak minta tolong ke arah kapal tersebut.
Kapal Nelayan dan Kaptennya
yang baik hati menolong kami
Betapa leganya kami melihat mereka menepi ke arah kapal kami dan kapal nelayan ini bersedia menolong kami. Ini baru bangsa Indonesia yang nenek moyangnya pelaut dan saling tolong menolong, saya doakan kapten kapal nelayan ini masuk surga, amin. Saya langsung menginisiatifkan rombongan kami untuk segera pindah ke kapal nelayan itu. Saya sangat yakin dengan tempat terbatas, saya harus menyelamatkan teman-teman saya dulu. Perpindahan kami ke kapal nelayan itu pun cukup sulit karena hujan masih rintik-rintik, sehingga membuat licin permukaan kapal, selain itu kami juga membawa tas-tas kami.
Detik-detik penyelamatan diri
Kapal nelayan ini adalah kapal kayu dengan kabin yang sangat kecil, mirip seperti kapal yang saya dan suami dapatkan saat kami melakukan perjalanan ke Ujung Kulon. Kapal Hijau kemudian ditarik dengan tali oleh kapal nelayan ini, sebagian dari rombongan  (yang bukan teman-teman saya) masih di kapal Hijau tersebut. Maliq berada bersama kami dan masih berusaha untuk mengurus tiket pesawat kami. Kapal bergerak dengan sangat pelan, karena ini tidak menggunakan motor, melainkan mesin uap diesel. Saya lihat pergerakannya sangat lambat di layar GPS Eric dari titik awal kami pindah ke kapal nelayan ini. Sekitar 40 menit menarik kapal hijau tersebut, akhirnya sang kapten menginformasikan bahwa kapal ini harus jalan lebih cepat lagi kalau tidak kami bisa tiba di Tarakan tengah malam, selain itu mereka juga membawa ikan-ikan hasil tangkapan yang harus tetap segar setibanya di Tarakan.
Kapal Hijau kami dan
sebagian rombongan sebelum pindah
Akhirnya keputusannya adalah menelantarkan kapal Hijau (bersama para ABK-nya) dan memindahkan sisa rombongan ke kapal nelayan ini. Kami harus berdesak-desakan apalagi di tengah hujan yang turun cukup lebatnya. Maliq pun menyadari bahwa hari sudah semakin sore dan kami belum makan siang sama sekali. Dia memesan beberapa ikan hasil tangkapan dan para ABK memasakkannya untuk kami. Makanan apapun terasa lebih nikmat saat kita sudah kelaparan dan telah melewati jarum bencana. Saya sukses mengganyang habis 3 kepala ikan!.
makan siang kami yang sederhana namun lezat.
Foto oleh @lolosianipar.
Hari semakin sore, sebagian dari kami sempat tertidur. Matahari mulai naik dan hujan pun telah berhenti. Daratan tidak kunjung terlihat, saya mengintip GPS milik Eric dan tampaknya masih jauh dari kota Tarakan. Saya mulai berbincang-bincang dengan kapten kapal. Ternyata wilayah laut tempat dia menemukan kami adalah wilayah rawan perompak alias bajak laut !!, dan dia dengan suksesnya menceritakan apa yang terjadi jika perompak menemukan kapal kami tadi!.
"Yah yang paling pertama diambil biasanya peralatanan elektronik; hape, kamera, lalu semua barang-barang lainnya milik penumpang. Kalau perempuan ya pasti diperkosa terus dibunuh dan dibuang kelaut!"
WHAT?!. Perut langsung mules mendengarkannya. Yuli agak tidak percaya mendengarkannya, saya rasa ini karena dia jarang sekali melakukan perjalanan laut seperti ini. Sementara untuk saya dan lainnya hal ini sangat masuk akal sebab saya dan suami bahkan pernah melihat salah satu kapal perompak dalam salah satu perjalanan melaut kami. Kemudian si kapten kapal meneruskan cerita "horor"nya.
"Itu tadi kalau diteruskan terombang ambing ditengah cuaca seperti tadi, kalau ada ombak sedikit besar dari tadi itu, pasti kapalnya terbalik dan tenggelam, karena kapal fiber seperti itu tidak sekuat kapal kayu seperti ini yang masih bisa mengapung ditengah laut lebih baik dari bahan fiber. Yah kalaupun tidak terbalik, kebawa arus hingga Pilipin (baca: Filipina), ditemukan patroli laut mereka dan kalau kita gak punya surat-surat (baca: Paspor, maksudnya) ya bisa ditembak mati ditempat dan dibuang ke laut".

OK, saya semakin paranoid mendengarkannya, tidak tahu harus percaya atau tidak, karena si kapten kapal ini menceritakannya dengan mimik wajah serius tanpa nada maupun raut bercanda sama sekali. Saya hanya bisa tercenung dan memikirkan betapa dekatnya kami dengan maut. Apapu  itu tadi yang bisa terjadi, sama sekali di luar kuasa kami. Saya bahkan tidak punya pikiran untuk menuntut Maliq sebagai travel organizer, karena sebenarnya yang harus disalahkan adalah si Supir Kapal Tolol itu lah. Saya benar-benar bersyukur ditengah jalan tadi, sebelum semua bencana ini terjadi, Maliq memutuskan untuk pindah ke kapal kami. Mungkin saya akan menuntut dia jika memang dia meninggalkan kami tadi. Intinya memang ini trip kurang pengawasan sekali dari pihak trip organizernya, sayang banget karena menurut kita semua sebenarnya Maliq ini orangnya baik dan mau menyenangkan semua pesertanya, tapi kesalahannya adalah dia suka terlalu percaya orang jadi bisa jadi kelemahan bisnisnya juga untuk maju, kalau kejadian seperti ini sekarang nih, semisal sebelumnya saya ngga pernah trip sama dia, udah pasti kartu black list buat kita ikutan trip dia lagi.

Deretan kapal nelayan warna warni
Kampung Nelayan di Tarakan
Wajah-wajah bersyukur lolos dari bencana
Minuman soda jadi super enak disini.
Kami mencapai pelabuhan ikan di kota Tarakan sekitar pukul 5 sore. Kurang lebih 10 jam yang dibutuhkan untuk mencapai daratan lagi, tidak habis rasa bersyukur saya begitu kami menjejakkan kaki di pelabuhan ikan yang bau ini, tapi kalau dibandingkan Muara Angke, pelabuhan ini jauh lebih bersih. Pelabuhan ini juga merupakan desa nelayan dengan kebersihan yang sebenarnya di luar ekspektasi saya. Mereka benar-benar menata cantik area ini. Bahkan deretan kapal kayu warna warni yang merapat menjadi objek foto yang cantik. Kami sempat foto-foto dengan noraknya disini sehingga membuat rombongan kami lainnya menunggu di bis yang menjemput. Maaf ya.
Yuli dan Bis jemputan kami
Kami makan malam di salah satu restauran dan menunya cukup variatif dan enak. Kami memesan 2 kombinasi masakan agar lebih cepat tersaji, yaitu Nasi Goreng Ikan Asin dan Mie Kepiting, yang menurut saya keduanya sama enaknya.
Kamar kami yang nyaman
Hari sudah malam dan kamipun menginap di Hotel Dynasty - Tarakan yang cukup membuat kami senang karena hotelnya nyaman, jauh lah dengan penginapan kami di Derawan. Hotel ini mungkin Bintang 3 dan kamarnya ber AC, Twin Bed, kamar mandi dengan hot shower - toiletries dan handuk, kasur serta bantalnya juga empuk (mungkin ini akibat 10 jam melaut dan lolos dari bahaya, sehingga membuat saya sangat mensyukuri keadaan kamar hotel kami ini).

Esok harinya Maliq sudah memesankan pesawat kembali ke Jakarta via Balikpapan, dan Alhamdulillah, kami pun tiba dengan selamat, lelah, bersyukur dan kesan yang mendalam terhadap perjalanan kami kali ini.
Terima kasih Maliq dan seluruh teman-teman dalam rombongan saya ini untuk kebersamaannya selama akhir pekan ini.

4 comments:

  1. gila. 10 jam. ga kebayang deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya 10 jam ..macam mw ke eropa kurang dikit ajah..

      Delete
  2. Oh pergi nya ama maliq kakaban yaaaa, btw kok bisa sech bensin sampai habis ????????? #parah. Iya gw juga denger cerita kalo di sana itu rawan perompak dari filipina jadi serem. Btw trus itu tiket kok via balikpapan ??? kan ada langsung tarakan - jkt ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Iya jd kyknya byk tlg kapal yg jualin bensin di kapalnya ke kapal lain..kan tkg kapal itu blm tentu yg punya kan yah.

      Dulu blm ada direct flight tarakan-jkt gituhh broh

      Delete

Boleh kok komen apa aja, nanya apa aja, curcol jg boleh. Minta di blogwalk jg boleh. Yang ga boleh itu pasang link ke website jualan ya. Tolong punya etika, jangan numpang iklan gratisan.

Spam komen link jualan = Delete.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Booking.com
Gadgets By Spice Up Your Blog