Howdy Fellow Travelers !

Menginap di Hotel Niagara Parapat


Menurut saya hotel ini adalah salah satu hotel terbaik di kota Parapat, mengingat hotel lainnya yang rata-rata sewaktu saya cari hotel disana itu kok ya kebanyakan hotel tua dan kecil, teman saya si Ayu malahan sampe wanti-wanti nyuruh saya bawa tisu basah dan pembersih alkohol yang banyak karena katanya hotel di Parapat jorse-jorse, hihihi. 

Untuk memesan kamar di Hotel Niagara Parapat ini ternyata bukan perkara mudah kalau waktunya mepet ya, udah nyobain semua mesin pencari hotel mulai dari yang lokal macam traveloka, go indonesia, raja kamar dst sampai juga Agoda dan bookingcom, ngga ada satupun yang menyediakan kamar di  Hotel Niagara Parapat ini untuk tanggal yang kita mau, padahal lagi Low Season, Agoda dan bookingcom malah lebih parah lagi, ngga masuk hotel ini dalam daftar mereka. Tapi tante ngga putus asa dong, akhirnya saya nyoba langsung telpon ke Hotel Niagara Parapat untuk menanyakan ada kamar tidaknya dan berapaan. Oleh penerima telpon saya dijawab tinggal 1 kamar yaitu kamar Deluxe dan harga kamar Deluxe per malamnya itu Rp 850 ribu...jiah emang yah nih saya perhatikan juga dari berbagai mesin pencari hotel, rata-rata harga kamar di Parapat ini kejam banget, ngga sesuai dengan tampilan kamar atau hotelnya, alias kemahalan. Saya coba tawar dong, saya bilang aja budget saya cuma Rp 500 ribu lagian kan kami akan check in-nya juga udah larut malam dan sekarang sedang Low Season. Eh ngga taunya langsung dijawab "yaudah Rp 530 ribu per malam ya bu, termasuk sarapan untuk 2 orang". Lha gampang banget, tau gitu saya nawar Rp 400 ribu deh...hihihihi... #tetepusaha #maklumpadang

Kami sampai di  Hotel Niagara Parapat ini memang sudah tengah malam sekali, langsung dari Parapat setelah 'menikmati' perjalanan 4 jam mencekam dari Kualanamu. Hotel ini ternyata berada diatas bukit dan untuk menuju ke arah hotel ini sepertinya tidak ada kendaraan umumnya, jadi kalau tidak menggunakan mobil sewaan sih tidak disarankan untuk menginap di hotel ini ya karena kalau naik kendaraan umum jalan kakinya cukup jauh dan nanjak (yaa..yang kerajinan olahraga sih kayaknya cuek aja, kalau saya sih males ya jalan kaki jauh, hehehe). Bangunan utamanya cukup besar dan lobbynya pun cukup besar namun gelap dan sepi saat kami tiba. Untunglah proses check-in tidak lama, saya langsung bayar tunai untuk kamar kita malam itu.
Atas: Gedung lama, tempat kamar kami berada.
Bawah: Gedung baru, menghadap ke Danau Toba dan kolam renang
Ternyata lokasi kamar kita berada di gedung lama dan tidak ada lift dong, untungnya kita cuma di lantai 2 aja, kalo ngga mayan deh gempor juga naik turun tangga. Udara malam itu lumayan dingin dan kita baru sadar juga kalau kamar kita tuh sebenarnya ngga ada AC nya, hahaha...tapi dingin lho.
Kamar kita cukup luas sih ya walopun tempat tidurnya dikasinya twin. Bersih dan ngga bau apek sih yang penting karena tadinya liat bangunannya tampak oldies, saya nebaknya kamarnya bakalan bau apek, ternyata ngga sih. Fasilitasnya lumayan lengkap kayak teko listrik ada, TV walopun masih model jadul alias CRT tapi ya ngga kita tonton juga selama nginep disitu. Yang menyenangkan kamar ini ada balkonnya
360 shot dari kamar kita di Hotel Niagara Parapat
Kamar mandinya sendiri sih standar ya, cuma ada pancuran, toilet duduk dan wastafel, tapi yang penting bersih dan wangi sih, toiletriesnya juga standar ajah. 

Besok paginya sebelum sarapan, sekitar jam 7 pagi kita jalan-jalan kelilingan lihat sekitar hotel. Ternyata ni hotel lumayan luas, kolam renangnya aja ada 3 tapi semuanya nyambung sih; buat anak-anak, buat dewasa dan agak semi jacuzzi, wedeh, keren amat.

Ada areal permainan anak-anak juga, terus ada semacam gazebo untuk duduk-duduk menghadap ke Danau Toba yang memang pemandangannya dari atas bukit ini cakep bener. Oiya karena si Hotel Niagara Parapat ini lokasinya memang diatas bukit, jadi pemandangannya berbeda dengan rata- rata hotel lain di Parapat yang rata-rata di pinggir Danau Toba ya, kekurangannnya mungkin kalau niat mau berenang di pinggir Danau Toba jadi ya ngga bisa langsung dari hotel ini, kalau saya sih ngga masalah karena toh pagi itu juga kita mau check out, lalu menyebrang menuju Pulau Samosir.

Area bangunan baru dan taman bermain anak
area gazebo diatas bukit 
Pemandangan Danau Toba dari Hotel Niagara Parapat cukup menakjubkan kan kan kan...

Sarapannya sebenernya menurut saya agak fail sih, buffet dengan manu standar macam; nasi goregn, bihun goreng, ayam goreng dst..rasanya juga biasa aja. Ada sih menu lain seperti salad, kue-kue kecil tapi semuanya tampilan standar dan sangat tidak menggugah selera.

Setelah sarapan dan mandi pagi, kami pun bersiap untuk check-out karena rencananya mau naik kapal feri jam 10 menuju Tuktuk, Samosir. Jadi kami telpon resepsionis untuk pesan mobil antar ke pelabuhan Tigaraja, biayanya cuma Rp 38 ribu per mobil. 
Selfie duluuuuu...
Hanya semalam menginap disini sebenarnya agak rugi soalnya belum sempet nyobain berenang disini, leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan danau Toba lebih lama lagi. Soalnya begitu nanti kita balik ke Parapat lagi setelah dari Samosir itu kita sempat menginap di Inna Parapat Hotel dan menurut saya jauh lebih bagus Hotel Niagara Parapat ini.

Jl. Pembangunan No. 1,
Kel. Parapat, Kec. Girsang Sipangan Bolon, 
Tigaraja, Simalungun, Sumatera Utara 21174
T: +6262541028


Read more »

Menyebrang ke Pulau Samosir


Betapa memalukannya ngga sih perempuan yang ngaku-ngaku travel addict ini ternyata belom pernah ke Danau Toba??!!...hahahaha.

Jadi yaaaa, emang saya nih orangnya taken for granted sama beberapa tempat wisata di Indonesia. Saya selalu berpikir karena tinggal di negara ini jadi saya bisa kapan aja jalan ke tempat-tempat wisatanya, terutama karena biasanya keseringan bisnis trip domestik jadi rasanya ngga rela kalau harus bayar sendiri pesawat buat tujuan lokal.. hehehe.

Okeh, lanjoott...demi karena akhirnya ada kesempatan gratis untuk ngetrip ke Medan dan Parapat, jadilah saya dan Pak Suami juga berkesempatan untuk mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir. Untuk menikmati 2 tempat wisata ini dimulai dari kota Parapat, dimana dapat dicapai sekitar 4-5 jam jalan darat dari Medan, the longest 4 hours in my life. Setelah menginap semalam di Hotel Niagara Parapat, saya dan Pak Suami keesokan harinya akhirnya menuju pelabuhan Tigaraja, itu pun setelah sarapan, foto-foto pagi di hotel kita yang pemandangannya ke Danau Toba memang ciamik itu.
Pemandangan Danau Toba dari Hotel Niagara Parapat
Untuk menuju Pulau Samosir, pastikan dulu kita mau tiba dimana, karena Pulau Samosir tuh ngga kayak Gili Trawangan (siapa yang bilang Samosir itu segede Gili T itu belajar geografi SD lagi deh) jadi ada beberapa titik kedatangan yang bisa dipilih.

Ada 2 cara juga sebenarnya, yaitu dengan kapal feri atau naik mobil melewati Pangurungan dan tidak melalui kota Parapat, melainkan rutenya dari Medan – Kabanjahe – Dairi – Pangururan – Tomok (Pulau Samosir), karena sebenarnya Pulau Samosir tuh tidak putus daratan dengan pulau Sumatera, melainkan ada jembatan penghubungnya juga di Pangururan, tapi gosipnya dari penjaga hotel kami di Samosir Villa Resort, jalur itu bukan untuk pemula sih.

Sementara saya akan bahas yang menggunakan kapal feri aja yah, secara itu adalah sarana transportasi umum yang paling biasa ditempuh untuk menuju ke Pulau Samosir.

Ada 2 pelabuhan yang melayani jalur umum ke Samosir.
- Pelabuhan Tigaraja, yang melayani jalur ke Tuktuk Siadong dan Tomok. Kapal ferinya dari kayu, lumayan besar dan umumnya bakal barengan sama hasil belanjaan pasar para hotel di Samosir (terutama kalau jalurnya ke Tuktuk). Motor juga kadang ada 1-2 yang ngikut di kapal feri kayu ini.

- Pelabuhan Ajibata yang melayani jalur ke Tomok, dan ini untuk kapal feri besar (KMP Tao Toba I dan KMP Tao Toba II) yang dapat mengangkut mobil.

Nah, saya dan suami itu mengambil jalur kapal feri kayu ke Tuktuk Siadong dari pelabuhan Tigaraja. Setibanya kami disana itu baru pukul 09.30 sementara kapal berikutnya katanya berangkat jam 10 pagi. jadilah kami duduk-duduk aja dulu di sekitar dermaganya. Oiya dari tempat kami turun mobil hotel hingga depan dermaga itu harus melewati pasar pelabuhan yang becek dulu.
Suasana dermaga pelabuhan Tiga Raja
Jadwal kapal ke Tuktuk berangkat tersedia setiap jam sejak pukul 8 pagi hingga jam 7 malam dari Tigaraja. Untuk kapal ke Tomok juga kurang lebih memiliki jadwal yang serupa. Kapal kami akhirnya pun tiba sekitar pukul 10 pagi deh, itupun ngga langsung masuk karena kan harus nunggu semua penumpang yang datang dari Tuktuk pada turun dulu, termasuk juga ada 1 motor bebek aja gitu yang ngikut naik kapal itu.

Kayaknya bawaan kita paling heboh deh dengan koper hardcase mengkilap eyke ya bo kalau dijejerin dengan sayur mayur di kapal itu kok ya agak jomplang, hehehe...abis gimana dong, males banget mau bawa bekpek kan ceritanya nanti trip ini bakalan lanjut bisnis trip, mosok bisnis trip bawa bekpek deh.
Boarding sewaktu ke Samosir (kiri), Boarding dari samosir (kanan).
Caelah..boarding...hahaha
Saya dan pak Suami langsung memilih area di atas, kebayangnya kalau dibawah tuh panas sih, ternyata di atas pun gerah yah. Langit sih agak mendung sebenarnya, tapi kelembaban tinggi jadi ya tetp gerah biarpun ngga ada matahari terik. Lagipula kalau dari atas lebih oke sih foto-fotonya, maklum sini banci foto, oke bonus #selfie dulu ya cyin...hehehe
bagian atas kapal feri ke Samosir
Oiya bayar tiketnya sewaktu kita sudah duduk diatas kapal, nanti ada yang akan nyamperin kita untuk nagih ongkos, per orangnya untuk penyebrangan feri dari Tigaraja ke Tuktuk dikenakan biaya Rp 10.000. Ngga tau deh tuh termasuk asuransi apa ngga, saya ragu sih. Oiya nanti akan ditanya kita akan turun dimana, sebutkan nama hotel tempat menginap di Tuktuk aja.
Parapat dari atas kapal menuju Tuktuk
Perjalanan menyebrang dari Parapat ke Pulau Samosir dengan kapal feri ini hanya 30 menit. Sebenarnya jaraknya deket sih, cuma emang kapalnya jalannya super lelet kalau menurut saya. Tapi okelah angin cepoi-cepoi dan kita bisa menikmati pemandangan cantik Danau Toba. Menjelang dekat dengan pulau Samosir, saya dan Pak Suami turun ke bagian bawah kapal dan mulai ngintip-ngintip di dalamnya. Ternyata tidak terlalu banyak penumpang hari itu juga di bagian bawah, rata-rata yang banyak ya sayur mayur, buah, bumbu masak dan sebagainya, hasil belanjaan hotel dan resort untuk masakan para tamunya

Ngintip isi kapalnyya bagian bawah ya kayak gini..
Tempat ketibaan kita di Pulau Samosir yaitu area Tuktuk, dimana kita bilang sama yang narik ongkos tadi, jadi karena kita menginap di Samosir Villa Resort, maka kapal kita pun berhenti di dermaganya Samosir Villa Resort dan menurunkan kita disitu, beserta juga segala sayur mayur lauk pauk belanjaan pesanan si hotel ini juga ternyata cukup banyak.
Samosir Villa Resort, tempat menginap kami di pulau Samosir
Sewaktu kita balik dari Samosir juga kita menunggu kapal ferinya di dermaga hotel kita. Walaupun awalnya kita agak bingung juga sih dengan jadwalnya karena beberapa kali ada kapal yang mampir di dermaga hotel kita eh ternyata bukan kapal feri umum melainkan kapal carteran rombongan yang menjemput rombongan yang menginap di hotel kita.

Oke, segini dulu ceritanya tentang Danau Toba dan Samosir ya, nantikan cerita dan foto-foto berikutnya di blog ini, atau di Instagram kita : +Traveling Cows  atau di FB saya, hahaha eh belom ada yang di upload deng foto-fotonya, duh males bener sortirnya...sabar ya pemirsa..(jiah kayak ada yang nungguin aja).

Btw siapa yang udah pernah ke Samosir lewat jalan darat alias lewat Pangururan? 
pengen tau deh ceritanya...




Read more »

Stresnya 4 jam perjalanan dari Kualanamu ke Parapat


Wiken awal bulan Juni lalu saya dan Pak Suami berkesempatan 'colong start' liburan singkat ke Danau Toba. Inilah sesungguhnya pengertian dari mixing business with pleasure, muhaahahaaa...
Oiya, udah ada yang nonton di bioskop belum film TOBA DREAMS? Saya udah nonton film yang merupakan adaptasi dari novel karangan pak TB Silalahi dengan judul yang sama itu ...bagus loh, dan sejujurnya film itu menginspirasi saya untuk melakukan trip 'colong start' ke Danau Toba ini. Pemandangan yang disajikan di film tersebut sungguhlah ketje dan tjiamik, ditambah lagi aktingnya om Mathias Muchus yang keren, akting Vino Bastian sama bini aslinya si Marsha T sih biasa ajuah (menurut gueh loch, eh Vino lumayan oke deng #labilbangetdehgw).

Eniwei baswei....Pak Suami tiba di Kualanamu duluan sejam dari saya. Dia naik Garuda, sementara saya naik 'adiknya', Citilink yang seperti diduga sempet delay 20 menitan. Karena kami tibanya sudah selepas Magrib, akhirnya ngga mau rugi sewaan mobil, kita sepakat untuk sikat langsung dari Kualanamu ke Parapat malam itu juga.

Oiya kita sewa mobil ke pak Syahrizal, atas rekomendasi Fanny si Shallow Obsession, namun supir yang mengantar kami malam itu bukanlah si pak Rizal namun pak Iwan.
Mobilnya Avanza ajah dan sebenernya dari awal saya agak kesal karena dia telat sejam menjemput kita, dengan alasan macet. Well, being Jakartan, sebenernya saya menganggap alesan macet di kota lain di Indonesia ini (kecuali Bandung saat wiken) adalah mengada-ada, kalau emang niat, berangkatlah lebih awal, gitu bukan solusinya?.

Nungguin dese jemput, jadilah kita terpaksa buang waktu makan di AW bandara, padahal tadinya saya pengen makan di jalan aja, apa kek...penkek duren gitu #lha. Akhirnya dari Kualanamu itu akhirnya kita berangkat sekitar jam 8 malam kurang sekian menitan dah. 
Bandara Kualanamu, Medan
Seperti judul postingan ini, sungguh perjalanan dari Kualanamu ke Parapat ini sungguhlah mendebarkan hati. Jarak tempuh Kualanamu-Parapat sebenarnya memang lebih dekat daripada Medan-Parapat, dan pada malam itu karena akhir pekan ternyata jalanan luar kota sungguhlah padat padahal udah malem buta. Yang bikin mendebarkan hati adalah, si Pak Iwan ini ternyata seorang pembalap GrandTurismo kayaknya. Gila banget di tengah kemacetan Jalan Lintas Sumatera yang gelap dan lebar jalan cuma cukup 2 jalur beda arah itu dia bisa lohhh nyalip sampe 6 mobil di depan kita, sementara dari arah yang berlawanan udah ada truk segede gunung (oke, lebay) yang nyalain senter lampu jauhnya dengan semangat membara demi ngeliat di depannya ada Avanza tolol yang nyalip berani mati gitu. 

Oh My God. 
Astagfirullah. 
Onde Mande tuesday wednesday.

Gw langsung teringat betapa seharusnya nulis surat warisan dulu sebelum pergi ke Medan ini. Kejadian salip meyalip mepet kayak gitu terjadi beberapa kali, saya bener-bener ngga bisa tidur, mana dia nyetirnya kayak kesurupan kalo ngerem, bikin eneg bener. Saya tuh seumur hidup ngga pernah yang namanya mabok darat, laut dan udara karena selalu minum Antim*  biarpun itu jalan darat di Kelok Ampek Ampek (Kelok 44 - di Sumatera Barat) sekalipun ya, ngga pernah bener eyke maboookk (kecuali di lantai disko sekitar 15 tahun yang lalu, plis jangan itung umur sayaah)....tapi kali ini...ampuuun dijeeee, kepala saya berkunang-kunang.

Itu bakal muntahan udah di ujung tenggorokan banget rasanya, berusaha makan permen - gagal, berusaha minum air putih - gagal, berusaha makan Dunkin Donut - eh kok malah habis hehehehe....etapi untungnya masih ketahanan ngga jekpot di dalem mobil sih. Kalau sampe kejadian eyke muntah dalam mobil jangan-jangan disuruh turun deh kita di tengah Jalan Lintas Sumatera yang mana di kanan kirinya kalau ngga perkebunan kelapa sawit, perkenunan karet atau ya udah hutan ajah gituh. Btw, kenapa ya ngga ada Rest Area macam di KM 57 Jakarta-Bandung gituuuh, atau apalah gitu pom bensin dengan RM Sederhana atau RM Sunda Ibu Ciganea. Hmm...peluang bisnis #otakdagang.

Pak Suami gimana? ....meeeeennn...dia mah molor ajeee gitu dari awal keluar Kualanamu ampe Parapat paling cuma 2-3 kali kebangun itupun gegara saya merengek-rengek pusing. Si Bapak ini, udah beberapa kali saya tegur sih, tapi dia bolak balik jawabnya " Tenang bu"...hadeh...gak ngerti deh mau gimana lagi, perkencang sabuk pengaman, pasrah aja. Oiya satu lagi catatan saya, rekor banget nih jalan darat keluar kota ngga pake mampir ke toilet, hahaha...udah saking parnonya disupirin pembalap.

Alhamdulillah sampai di Parapat 4 jam kemudian. It was the longest 4 hours in my entire life. Begitu lihat pantulan - pantulan cahaya di permukaan air yang sepertinya itu di Danau Toba tuh saya langsung feeling, kayaknya dah nyampe Parapat nih, eh bener sih..abis kan kita sampai Parapat udah jam 12 malam, jadi ya gelap sih namun banyak lampu-lampu juga dari beberapa bangunan dan lampu jalan. Legaaaa...

Kami menginap di (menurut saya) hotel terbaik di Parapat yaitu Hotel NIAGARA Parapat (sayangnya bukan di Niagara Falls). Untuk menuju ke hotel kami pun ada drama nyasar sana sini karena si pak supir bolak balik saya minta tanya aja ke orang/warung pinggir jalan, eh dia ngga mau dan dengan sotoynya nyari jalan sendiri...dan nyasar. Mana ternyata masuk areal kota Parapat dan sekitarnya itu kita ditarik retribusi juga, 2 orang (supir ngga diitung) + mobil total Rp 30.000, yang mana menurut saya sungguhlah mahal karena kita juga ke Parapat numpang tidur semalam juga dan mosok iya itu penjaganya ya niat banget melek jaga pos di jam 12 malam begicuuuu...gilingaaan. Seperti biasa, karena ngga rela, saya minta tiketnya, yang mana kalau ngga minta ya ngga dikasi kayaknya diem-diem aje dia. 
Hotel Niagara Parapat
Setiba di hotel dan setelah check-in beres, saya akhirnya meminta pak Iwan ini pulang aja ke Medan lagi, padahal tadinya sebelum kita pergi itu niatnya kami mau menggunakan beliau jalan-jalan keliling Parapat di pagi hari dan sekalian menurunkan kami di Pelabuhan Tiga Raja untuk menyebrang ke Pulau Samosir, namun ternyata dari hotel ada jasa antar ke Pelabuhan Tigaraja cuma bayar Rp 38 ribu berdua/semobil. Lagi pula boooo...eyke ngga tahan lagi sedetikpun disupirin dia, suer...daripada stres di jalan melulu. Duh maaf ya pak, emang sih tau situ jagoan nyetirnya, tapi bener deh cukup sekian terima kasih ajuaahhh.

Oiya biaya sewa mobil untuk menjemput ke Kualanamu lalu langsung ke Parapat itu kami bayar Rp 350.000 (mobil dan supir) dan bensin (minyak - kalau menurut orang Medan) Rp 200.000, tadinya si pak Iwan minta dibayar bensinnya Rp 250.000, karena udah terlanjur diisi penuh dengan asumsi besok harinya kami masih menggunakan jasanya. Bagusnya ngga pakai ngotot, akhirnya menyerahlah dia, setelah saya kasih hitungan kasar berapa liter bensin yang digunakan dengan jarak tempuh ke Parapat dari Kualanamu, itu pun 200 ribu udah kelebihan banget, hehe...maaf ya...situ boleh orang Medan, sini Urang Awak....wakakak.

Sebenarnya sih, untuk pengeluaran yang lebih ekonomis bisa aja naik mobil travel atau bus ke Parapat, tapi kita kan sampai sudah malam dan lagi pula Princess Sapi terlalu lelah mau 4-5 jam jalan darat pakai kendaraan umum. Idealnya jika mau lebih ekonomis kalau sewa mobil memang kalau perjalanan minimal 4 orang, kan enak ya biaya sewanya bisa dibagi lebih murah jadinya per orangnya.
Pemandangan Danau Toba dari Hotel Niagara Parapat
Bersambung yaa...nantikan cerita kami ke Medan-Parapat-Toba/Samosir selanjutnya, hanya di Bat Cow Channel ini!. Belom ada sih foto-foto yang di upload baik di Instagram kita : @travelingcows ataupun di FB saya ...tapi ada sih beberapa random foto di perjalanan di twitter @vayastra cuma ya gitu deh. 

Ada yang punya pengalaman menegangkan juga ngga di perjalanan dari Medan atau Kualanamu ke Parapat ? atau rute sebaliknya mungkin?.

Read more »

Our lovely stay at JW Marriott Medan


For the obvious reason, hubby and I stayed one night at JW Marriott Medan during the end of our leg of Medan - Toba trip last week, the reason would be; I did not have to pay it myself. Hahahaa... Thank you Mr E! *thenamecouldnotbementionsaidthehubby*
We arrived quite late, around 8 PM from our 5 hours road trip from Parapat, with the rest of the team, so yeah we were tired. It's a good thing that we have our stay in JW Marriott Medan in the end of our trip, otherwise, compared to other hotels that we have stayed in Parapat and Samosir, it would be a declining standard. It's almost like a rewarding stay, back to civilization feeling when we entered their luxury lobby, and embrace the nice air-con and lovely scent that you usually smell only in luxury hotels. Hahahaha... 
Their Lobby and they have mobile apps,
so you could do online check-in for your room
Lobby decoration
Anywaaay.. One night would be enough to rest in a such splurge room like in JW Marriott Medan. Mba Noni was nicely helped us to prepare our check in to our room so when we arrived at 8 PM, everything was already taken care and we did not waste more time to enjoy the room, and hubby even got Marriott membership card with special privileges that I forgot what are they about , I am so sooryy...(the front desk explained to us, but I was too excited looking at city view outside from our room's big glass window).
Morning view from our room
Our room number was 2627, so it's located in 26th floor which gives us a panoramic view of Medan. You will be given a room keycard which you should use to access the elevator to your room's floor., for safety reason, you could only hit your room's floor and other public area floor.

Our room was a Deluxe room and very spacious as a 5 stars hotel should be, there are 2 fluffy armchair sofa, a huge working desk, mini bar area, and our king bed is side by side with the bathroom's glass window which you could see through the entire bathroom - which is suitable for me to did a number of private striptease show from bathroom to Pak Suami, hahaha ok, #TMIalert ..sorry for disappointing you, but no photos are published here during the session, hahaha. But seriously, one could watch the 42" LED TV while soaking in the bathtub, easy peasy, very relaxing. Wi-Fi is fast and reliable, and most importantly: free.
The see-through bathroom's glass window 
The Bathroom is spacious too, equipped with shower box and a heavy duty shower head, a bathtub, and toilet. Amenities are fully equipped including hair dryer. As I said, the highlight would be a giant see-through glass window as the divider between bathroom and our bed. But need not to worry if you're staying here with a friend whom you would not want her/him to 'watch' you take a shower, there is a control panel when you press it down then a curtain will roll down to close this glass window.
Spacious bathroom
panoramic view of our Deluxe room in JW Marriot Medan
Another panoramic room picture.
We ate dinner in one of their restaurant, called PRIME Steakhouse. Unfortunately I had earlier dinner before and I was to full to eat a 220 gram steak, so I ordered appetiser ; Foie Grass and Scallop (I forgot what it called in menu) and England Clam Chowder soup but Hubby did ordered New York Striploin steak with wild mushroom sauce. We even got compliment from the Chef, I don't know what it was, but it's damn good!, hahaha...the Clam Chowder is really good but I found out that I am not actually a fans of Foie Gras (this was not my first time eating foie gras, first time I did not quite like it, but I attempted to give it a second chance). It was a pretty late dinner so not many people there while we were there, however the music from (I think a lounge) a level below this restaurant was playing a loud music, not that I complaint, but it was a Monday night and I was wondering if Medanese are really partying during working day. Aside from PRIME, there is also another restaurant; JADE restaurant which serves Chinese food, Marriot Cafe - where they serve breakfast (also lunch and dinner-but these two are not included in room rate, obviously) and there is also The Lounge where you could enjoy live jazz music.

We had a lovely good night sleep in JW Marriott Medan, and the next morning we got up early, we visited the spa (Quan Spa), indoor fitness center and outdoor pool area. The sun peeked a bit, very beautiful.
Beautiful sunrise
Contemplating to swim or not
Akhirnya berenang..
At first I did not plan to swim, so I did not bring my swimsuit but after seeing their swimming pool, I got tempted so I went back to our room, change and did 10 laps swimming, hahaha very ambitious for a girl who does not take sport as her hobby. Btw, you don't need to bring your room towel to swim here, they'll provide a new one from the Spa reception. There are some 'Bale-bale' in pool area where one could lay down, enjoying scenery, having chit chat with friends, or simply sleeping - which that was actually what my Hubby did while I was swimming. 

The changing/shower room is pretty huge, they have lockers, shower rooms, sauna, steam room, even a small hot jacuzzi pool where I saw an Ajumma soaked herself there, naked!, she must thought this place is sort of smaller scale of Jjimjilbang (well, to be honest, I don't know how is the actual common bathing suit rules in Jacuzzi). 
Breakfast at Tiffany Marriot cafe
all kind of bread vs Lontong Medan's condiment



Later on, we had breakfast at Marriott Cafe. They have extensive AYCE menu, from local dishes; Nasi Lemak with Rendang, Lontong Medan, Kuetiau/Noodle soup, American, Continental to Japanese food. I would love to try them all! however after a bowl of Miso soup, 3 pieces of salmon sashimi, a bowl of Kuetiao Soup, 3 glasses of fruit punch then ended with my favorite local sweet delicacy; Lupis (a Sumateran dish made; rice cake, sprinkled with grated coconut and brown sugar syrup for topping) - then I was full and content.
Breakfast, my pick.
We spent the rest of our morning in our room, packing to be exact and then around 10 AM, we checked out and wanted to explore the city and before that I planned to meet Mbak Noni in person (which I told the story about that in here).

We had a great time in JW Marriott Medan. Everything is superb. I have nothing to complaint about. Your money is well-spent when you stay in JW Marriott Medan.

For further booking with best price rate promotion please check out Agoda or Booking.com .

Jalan Putri Hijau No. 10
Medan, 20111 Indonesia
Office: 62 61 455 3333
Toll-free: 0 01 803 606278

Read more »

Meet up with one of #MenghirupDunia author



Hi..hi...
Just got back from our trip to Medan-Toba this weekend, so yes I've been a hit and run blogger for the past few weeks months. Got a lot of things going on, haven't been able to write much also about February Imlek trip to BaliApril trip to Japan, May trip to Aceh- Weh island (btw it's going to be featured in 20 pages articles in one of new travel magazine, I will brag blog about it later, or consider this post as a my humble brag, hahahaha...).

So as I am not a frequent visitor to Medan (my last trip was in 2006 for a business/event matter) and a virgin traveler to Toba Lake, I contacted the ever famous Ms Noni Khairani - a well known blogger who lives in Medan and has a lot of travel tips about Medan and Toba on her blog. I was nagging her through WhatsApp, asking amateur questions ...hahaha, sorry mbaak!, which she nicely replied and even recommended some places to stay, go and eat.


Mbak Noni along with other well-known travel bloggers : Mbak Fabiola Lawalata, Taufan Gio, Mindy Jordan, Fahmi Anhar, and Agata Filiana had published their first anthology book called; #MenghirupDunia
I have bought the book and been reading it religiously along with Sophie Kinsella's newest Shopaholic series during my weekend trip to Medan-Toba.

To be honest, although yours truly love to travel, I am not a collector of travel books or guide, most of my collection in related to travel would be anthology books, or some books which written by my friends, I have only 2 Lonely Planet books; INDONESIA which I won from a competition at my former office, and JAPAN - which I got as a birthday gift from my friends, I also have 2 Eyewitness Travel books; EUROPE and BRAZIL which both were also birthday gifts from my friends. I prefer to read the Eyewitness ones, as they have a lot of lovely colorful pictures, I am a visual spatial person, so I got attracted to something visually (yes, that is why I LOVE SHIRTLESS CHANNING TATUM)

On the contrary to my fondness in traveling economically, actually I avoid to buy or read the "HOW TO Travel in Rp XXX" book or anything resembled to How to travel guide books (unless it's written by my friend - I am that picky). I enjoy the process of googling and found the information through online myself so I could keep note on my iPad and read them while travel, it's more practical for me. Most of the time it's because I get easily distracted when reading, that is why I prefer book reading as a relaxing moment not for the purpose of learning stuff (and one might wonder how did I finished school or Uni back then, it was a God's secret indeed that I graduated till Master degree with flying colors...hahaha).


Good thing about reading #MenghirupDunia as it's an anthology book, where each story is not related to each other and written by different author. I need not to read from page one through the end in consecutive order, I could do random reading one story then moved to other story without feeling left out. My favorite (so far, as I have not yet finished the book) are ones about Danau Toba written by mbak Noni and story about Mbak Febby's trip to attend her dad's funeral, because both are so relevant to me (as I was recently from Toba and I did know how it felt not to meet my dying dad until he passed away).

BED - best place to enjoy this book...hahaha
By the end of our leg from this trip, we were staying at one of the most prestigious hotel in Medan (which obviously I was not paying this myself...hahahaa, cheapo girl spotted) and got a chance to meet mbak Noni in person!. She's very pretty just like her pictures on her blog, and very nice.
We chatted a bit in the hotel lobby, did not have enough time as we would like to explore Medan and she had to get back to her work. However in that short timed meet up, I manage to get her autograph for my own copy of #MenghirupDunia ...yey!...thank you mbak!..it was lovely to meet you..

Ok, 1 down, 5 more autographs to go then..
:)
Read more »

Friendship Staycation di Harris Hotel and Conventions Bekasi

Sungguh weekend minggu kemarin adalah tanggal tua tapi napsu pengen liburan ala-ala borjuis. Lalu nasib bertepuk 2 pasang tangan lainnya yang sama-sama kepengen liburan ala-ala tapi ogah naik pesawat dan ogah jauh dari Jakarta juga karena...bokek. Jadilah kita berangkat ke....BEKASI !. Kenapa Bekasi maaakkk? yah sejujurnya eyke sumpah penasaran banget kenapa dulu sempet Bekasi itu di-bully sejagat raya. Alhamdulillah saya mah ngga pernah ikutan ngebully Bekasi, tapi ya Tuhaaan emang bener cyiin itu jalan kesana maceett buangettt. Mosok ya pernah saya kesana butuh 3 jam dari rumah saya di kawasan elit Pondok Indah  Jaksel ke Bekasi #elapkeringet #untungganyetirsendiri #ehgwnaekubertaxidong

Okeh lanjut, 2 hari sebelom saya dan teman-teman saya Staycation di Harris Hotel Bekasi ini, memang saya diundang oleh TAUZIA Hotel Management untuk hadir di acara Warming Party dari Harris Hotel and Conventions Bekasi  terus dikasi kesempatan bobo-bobo cantik disitu seminggu semalem.
Lobby hotel yang luas bisa koprol 7x, cobain ajah
Seperti halnya hotel Harris lainnya yang pasti eye-catching dengan warna Oranye-nya, Harris Hotel and Conventions Bekasi ini pun secara arsitektur pun mengaplikasikan gaya moderen, muda dan trendi mulai dari fasad luar bangunan, hingga interior dalam hotel dan juga dalam kamar-kamarnya. 
I see you.
Semula saya kurang paham kenapa dah Harris bikin hotel gede begini di Bekasi? bok, ga usah sedih...ternyata ini adalah hotel Harris yang paling banyak jumlah kamarnya, ada 332 kamar (termasuk suite) en 15 ruang pertemuan yang bisa menampung hingga 2500 orang di Harris Hotel and Conventions Bekasi ini, dan tingkat huniannya pun sangat tinggi sejak dibuka di awal tahun 2015 ini!.

Ternyata oh ternyata.. di kota Bekasi itu pan banyak banget area perindustrian dan komersial yang mana punya potensi besar untuk berkembang terus, apalagi sekarang dengan adanya Kota Summarecon Bekasi yang saya lihat sendiri bakalan bisa menyaingi popularitas kota penyangga Jakarta lainnya. Untuk mempermudah para tamu, Harris Hotel and Conventions Bekasi ini juga menyediakan pelayanan antar-jemput (shuttle service) dari dan ke bandara karena memang Harris Hotel and Conventions Bekasi ini ditujukan utama untuk para pebisnis, selain juga wisatawan.
Kamar Suite yang lebih luas (38 sqm) cocok buat pebisnis (diperagakan oleh model)
Lokasi Harris Hotel and Conventions Bekasi ini memang sangat strategis, keluar dari tol Bekasi Barat itu tinggal belok kiri terus lurus aja sampai kita melewati jembatan fly-over Kota Summarecon Bekasi yang lumayan bikin saya ternganga-nganga (biarpun eyke udah lihat jembatan Golden Gate dan London Bridge langsung, tetep lho saya norak banget cintah yang Made by Indonesian, kepengen foto dengan Fly-Over Summarecon ini tapi dicegah sama temen-temen saya, mereka sungguh tidak asik, hahaha...). Terus yah, yang bikin hepi adalah, dari Harris Hotel and Conventions Bekasi ini ada pintu masuk langsung ke ...Summarecon Mall Bekasi !!...wahaha #anakmolabis.

Btw ini pertama kalinya saya juga ke Summarecon Mall Bekasi, dan ternyata mall ini besar sekali, ..dan ada UNIQLO dan IMAX nya!!, saya ampe takjub, secara ya mall favorit saya sedunia ; Pondok Indah Mall aje udah sampe PIM3 begitu kagak ada Uniqlo dan IMAX !!.

Okeh lanjut..
Setelah pamit berurai airmata minta ijin pak Suami (yaelah lebay amat mau ke Bekasi doangan), saya dan 2 orang teman saya berangkat dari Plaza Semanggi sekitar pukul 1.30 siang, lewat tol dalam kota di hari Sabtu yang panas. Ealah dasar anak solehah ya, Alhamdulillah mosok setelah 3 porsi burger Carls Jr sejam kemudian udah nyampe dong di Summarecon Bekasi yang mana dari situ cuma 5 menit kemudian pun nyampe Harris Hotel and Conventions Bekasi.
Selamat datang di Summarecon Bekasi  
Disambut dengan Welcome Drink berupa jus berwarna oranye yang kata mbak resepsionisnya ternyata adalah Jus Pepaya dingin (saya biasanya ngga suka Pepaya, tapi jusnya ini enak, suer, mungkin karena gratis, hihihi). Proses check-in cepat, mungkin karena saya pakai baju warna Oranye (semacam kembar sama semua pegawai Harris), juga namun ada ganjalan sedikit ternyata harus memberikan deposit Rp 300 ribu bisa tunai ataupun kartu kredit, terpaksa ngutang dulu ke Myrna, soalnya cuma bawa duit goban nih tante (gaya doang borjuis, dompet tetep tipis), tapi deposit nanti akan dikembalikan setelah check-out sih, cuma sebagai garansi.

Oiya karena kita bawa mobil, maka kita parkir di tempat parkir yang sama dengan parkiran Summarecon Mall Bekasi ya, jadi kita minta diberikan jatah parkir gratis sama embak resepsionisnya diminta isi form aja untuk mendaftarkan mobil kita. Jadi yang bawa mobil, jangan lupa daftarin mobilnya kalau menginap di Harris Hotel and Conventions Bekasi ini.
Jeruk kok minum jus pepaya
Mampir ke kamar kamii...
Berhubung saya perginya dengan perokok, maka kamar yang saya minta adalah Smoking Room, namun biarpun namanya demikian sewaktu kita masuk kamar itu ngga ada lho bau rokok sedikit pun, saya kan sensitif ya emang ngga suka bau rokok (segitu tenggang rasanya gueeh sama temen-temen gueh..hah..hah) dan saya hepi banget setelah mengendus-endus semua bantal dan kasurnya ngga ada tercium bau rokok sedikitpun. Salut deh.

Kamar kami besar, kita mintanya yang 2 tempat tidur terpisah. Kasurnya empuk, dan yang bikin hepi, ada 2 gulingnyaaaa, plus guling Harris yang warnanya orens...jarang-jarang lho hotel nyediain guling, penting banget inih, soalnya saya dan Myrna sama-sama harus bobo pake guling.

Mari bobok
Kamar yang kita tempati adalah kamar Standard (tipe kamarnya emang cuma Standard dan Suite) yang luasnya 30 sqm, dan selain kasur tentunya dilengkapi dengan TV LED layar datar 42-inci dengan TV kabel yang komplit pilihannya, meja kerja, deposit box, kulkas mini, minibar dimana ada teko listrik juga untuk membuat air panas, area gantungan baju lengkap dengan kimono dan sandal jepit kamar yang unyu ucuk aned.

Selain gratis WiFi di seluruh area hotel ini (tanpa password, dan cukup kencang loh), salah satu yang saya suka dari kamarnya adalah tirai yang digunakan selain vitrage juga menggunakan bahan kain anti UV yang tebal tidak tembus cahaya matahari Bekasi yang panas ituh soalnya saya paling ngga suka kebangun pagi silau gegara matahari (hohoho pada ga tau kaan...sebenernya saya adalah vampirecow bukan travelingcow).
fasilitas kamarnya lengkap
Serba oranye
Kamar mandinya juga lumayan luas. Pancurannya deras dan pengaturan air panas dan air dinginnya seimbang plus cermin yang digunakan anti embun bok. Toiletries yang diberikan juga lengkap, dan tersedia hair dryer juga buat perempuan penting banget inih. Love banget lah sama kamar kita.

sebelum terlalu berantakan
Apalah artinya staycation tanpa #selfie
Siapa tahu ada yang nawarin job model
Setelah bosen gegoleran di kamar, kita pun mulai tour keliling hotel, secara 2 hari sebelumnya saya juga udah diajak keliling sewaktu acara Warming Party ya jadi saya udah hapal dong, hehehe.. fasilitas penunjang di hotel ini bisa dibilang cukup lengkap yaitu adanya internet corner dan juice bar di lobby hotel, lalu ada Business Center, Fitness center, Spa, Sky Pool (kolam renang) dan terakhir untuk yang membawa anak kecil pasti hepi karena ada Dino Kids Club, semuanya terletak di lantai 6.
Pengen nyobain spa tapi ga dapet voucher gratisnya #uhuk #kodekeras
Fitness yuk
Sunset dari skypool Harris Hotel Bekasi
Best time to visit Sky Pool alias kolam renangnya yang di lantai 6 ini, adalah dikala matahari terbenam karena cantik banget, selama ngga hujan loh ya. Kami baru sempat berenang di malam hari selepas magrib karena sebelumnya terlalu ramai banyak anak kecil. Airnya hangat walaupun di malam hari, terus kita sempet foto-foto tolol lah di dalam air mumpung lagi bawa kamera bawah air tapi ngga pake GoPro, ngga punya GoPro..beliin dong kaka..
Kolam renang punya kita malam itu!
foto-foto tolol di bawah air
enaak berenang malem, sepi dan gak panas
Namanya staycation ya gitulah cuma leyeh-leyeh aja di hotel, menikmati kolam renang, kamar, wifi gratis, sampe niat banget menggunakan laptop internet corner di lobby buat mindahin foto dari kamera ke henpon, jiahaha. Kita cuma keluar buat makan malam di Bekasi Food City di Summarecon Mall Bekasi, secara cuma ngesot doang dari hotel kita ya. Btw, itu makanan di Bekasi Food City endol-endol biangettt lohhh, serius deh.

Selain itu kita sempat nonton midnite di IMAX-nya, oiya kalau mau balik ke kamar di hotel sebelum nonton midnite di XXI Summarecon Mall Bekasi ini, masuknya harus dari Downtown walk area (jejeran resto diluar mall; Hong Tang, Bengawan Solo, Nanny's pavillion dsb) ya, nanti ada pintu kecil dibuka karena diatas jam 10 malam sudah ngga bisa lewat pintu masuk langsung tembusan dari Harris Hotel maupun dari depan lobby mall-nya lagi.
Harris Cafe
Sarapan di Harris Cafe
Besok paginya saya sarapan di Harris Cafe and Juice Bar, yang mana selain menu makanan dan minumannya sangat variatif juga serba sehat karena tanpa MSG, menggunakan lebih sedikit garam dan gula, oiya kita bisa pesanan makanan 24 jam dari HARRIS Cafe ini lho.
Sayangnya kami kesiangan bangun (jam 9 pagi kakaaa..) jadi kehabisan sebagian menu makanan seperti sushi favorit eyke, emang bener tuh early bird catches the worm ya..tapi kan saya sapi bukan burung...hehehe.
sarapannya buku?
Sarapan yang sehat
Mbok bartender Cabe Lempuyang
Sehabis sarapan, niatnya mau berenang lagi apadaya teriknya matahari Bekasi membuat kami lebih suka ngadem di kamar ajah sembari gosip sana sini, sampai kita harus check out, btw kita ngemis gitu minta late check-out saking betahnya disini.

Secara keseluruhan kita hepi banget bisa ngabisin wiken kita di Harris Hotel and Conventions Bekasi ini. Terima kasih untuk kesempatannya  menikmati kenyamanan Harris Hotel and Conventions Bekasi ini dan juga 'membuka' mata bahwa Bekasi menyenangkan buat wikenan juga.

CATATAN :
Walaupun saya adalah tamu undangan dari Harris Hotel and Conventions Bekasi ini namun semua pendapat yang saya tulis ini merupakan opini jujur dari pengalaman saya selama kunjungan, karena dari hati yang senang terdapat jiwa yang kuat tulisan yang apa adanya.

Harris Hotel and Conventions Bekasi
Jl. Bulevard Ahmad Yani Blok.M, Bekasi, Jawa Barat.
Phone +62 21 2851 9080
Fax +6221 2851 9081
Pemesanan kamar : melalui E-mail atau bisa juga melalui Agoda dan Booking.com



Read more »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Booking.com

InstaGallery

Gadgets By Spice Up Your Blog